Perjalananku

Putaran roda mempercepat langkahku menuju tujuan.

Walaupun hati ini masih berat untuk menghadapi kenyataan yang terjadi, tapi senyuman adalah jawaban yang paling tepat untuk membuat hati ini menjadi lapang dan semakin luas.

Basahnya badan ini dengan air mata, jerih payah, dan perjuangan keluargaku serta keringat-keringat pengorbanan mampu membuat tubuh ini menjadi kekar, basahnya badan ini mampu membuat air mata menjadi senyuman, basahnya badan ini mampu membuat kemarahan menjadi tawa keceriaan. Air itu adalah air yang memiliki arti dan makna-makna kebersamaan dan ketulusan.

Akhirnya putaran roda itu mampu membawa diri ini sampai tujuan.

Guyuran air itu tidak hanya membuat badan menjadi segar tapi juga mampu membuat hati ini semakin sejuk.

Cipratan wudhu yang mengaliri tubuh membuat kerasnya hati menjadi lembut, air itu mampu membuat api di kepala menjadi beku dan menjadi cair yang mengalir keseluruh aliran darah dan semakin menyejukkan.

Sholat maghribku kala itu membuatku merasakan betapa dekatnya Allah dengan ku

Sholatku kala itu semakin menyadarkanku betapa kecilnya diri ini dihadapan Allah, betapa lemahnya diri ini tanpa bimbingannya, karena kepadaNyalah tempat memohon dan mengaduh yang paling baik.

Tubuh ini tak kuasa menahan rindu kepada sebuah kasur yang tergolek di lantai kayu beralas karpet yang penuh dengan  sobekan dan tambalan pada beberapa sisinya

Sepertinya kasur itu mengerti sahabatnya yang sedang lelah dan memberikan kesejukan kepada setiap otot yang ada di tubuh ini

Terkadang atap bisa menjadi pemandangan yang sangat indah, ia bisa menampilkan wajah keluargaku, ia mampu membuka semua kenangan, di sana aku melihat tangisan saudaraku, disana aku melihat tawa ceria saudaraku, aku juga dapat melihat kemarahan dan kekecewaan saudara-saudaraku. Atap itu mampu membuataku merasakan dan meresapi air mata mereka, atap itu mampu membuatku merasakan kesedihan dan kemarahan mereka, tapi atap itu juga mampu membuatku merasakan tawa dan keceriaan-keceriaan saudaraku, atap itu membuatku bisa merasakan betapa lelah dan beratnya perjuangan-perjuangan saudaraku, betapa besarnya pengorbanan yang mereka berikan kepadaku, mungkin ucapan terimakasih tidaklah cukup untuk membalas itu semua, diri ini hanya mampu memohon kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk semua saudaraku itu.

Hati ini menangis tapi juga gembira, hati ini marah tapi juga tersenyum, hati ini penuh dengan  warna dan rasa.

Akhirnya kumandang adzan mampu mengembalikanku pada kenyataan. Sayang, atap itu hanya mampu memberikan kenangan, tapi terimakasih karena rasa dan kenangan itu akan selalu tersimpan di hati ini.

Lagi-lagi wudhu itu kembali memberikan kesejukan kepadaku. Sholatku mampu kembali memberikan ketentraman di hatiku. Terimakasih ya Allah.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggetarkan bibir dan tubuhku, lantunan itu semakin mendekatkanku kepada Allah, lantunan itu membuat iman dan ketegukanku semakin kuat. Terimakasih ya Allah.

Akhirnya jemari ini tak mampu menyembunyikan rasa, jemari ini menuju sesuatu yang kudapatkan dengan penuh perjuangan, alat yang selalu digunakan jemariku untuk mengungkapkan rasa dan segala fikiran yang ada di kepalaku

Baru sebentar jemari ini berinteraksi dengan alat itu, mata ini sudah tak mampu menahan aliran kenangan yang digambarkan oleh atap tadi.

Mata ini mengeluarkan rasa yang lebih dibandingkan dengan atap tadi

Mata ini mengalirkan tangis saudara-saudaraku

Mata ini mengalirkan kemarahan dan kekecewaan saudara-saudaraku

Mata ini juga mengalirkan tawa dan keceriaan saudara-saudaraku

Mata ini mengalirkan senyum dan keikhlasan saudara-saudaraku

Mata ini tidak bisa menahan beban, mata ini tidak tahan menahan perjuangan, mata ini juga tidak mampu menahan pengorbanan.

Tapi bibir ini masih mampu tersenyum yang memberikan kesejukan kepadaku. Terimakasih saudaraku.

Di tengah aliran kenangan dari mataku serta senyuman yang terurai dari bibirku, telingaku mendapatkan sebuah penyejuk lantunan yang indah untukku, inilah yang telingaku dengar :

Disaat setiap orang menjauh melihatmu dalam kesedihan…

Dimasa semua orang meninggalkan dirimu dalam kesendirian…

Terasa smakin berat bebanmu…

Terasa smakin sesak dadamu…

Menghadapi cobaan…

Diwaktu setiap desah nafasmu terasa berat karena kepedihan…

Dikala setiap tetes air mata yang kau tahan  karena mencoba bertahan…

Semua akan ada akhirnya… semua kan berakhir…

Semua akan membuatmu berlapang… menghadapi cobaan…

Allah tak akan memberikan cobaan yang kau tak sangup untuk memikulnya…

Allah tak akan merubah keadaanmu jika kau tak berusaha merubahnya…

Tegarkan dirimu karena janji Allah adalah pasti…

Telingaku memang beruntung mampu mendengar dengan baik dan semakin menguatkanku tentang perjuangan dengan sebuah lantunan ini :

Sekeping hati dibawa berlari… jauh melalui jalanan sepi…

Jalan kebenaran indah terbentang di depan matamu para pejuang…

Tapi, jalan kebenaran tak akan selamanya sunyi…

Ada ujian yang datang melanda… ada perangkap menunggu mangsa…

Akan kuatkah kaki kan melangkah, bila disapa duri yang menanti…

Mengharap senang dalam berjuang, bagai merindu rembulan ditengah siang…

Jalannya tak seindah sentuhan mata, pangkalnya jauh hujungnya belum tiba…

Akhirnya tubuh ini tak mampu menahan lelah, tubuh ini telah rindu dengan kasur yang mampu merenggangkan otot-ototku, tempat yang bagus untuk memandang atap yang memberikan pemandangan indah, tetapi apa daya mata ini tak mampu lagi bertahan.

Semoga malam ini aku tidur dengan saudara-saudaraku

Semoga malam ini aku bermimpi bersama saudara-saudaraku

Semoga kenangan ini selalu hidup dalam hatiku dan hadir disetiap malamku dalam tidurku.

Terimakasih saudaraku, maafkan aku atas segala kekurangan dan kekhilafan yang ku lakukan…

Pukul 21.52

Akhirnya malam ini, diriku dibelai lembut oleh indahnya hari.

Selamat malam saudaraku…

Aku tidak menyangka jika ini ku tulis dengan air mataku…. Bogor, 29 Desember 2007

 

Pukul 05.30

Udara pagi membelai sejuk tubuhku

Hawa dingin membuat ototku segar

Damai ini kurasakan dihari yang baru untukku

Akhirnya lantunan itu membuatku nyaman

Aku ingin hidup secerah mentari yang menyinar di taman hatiku…

Aku ingin seriang kicauan burung yang terdengar di jendela kehidupan…

Aku ingin segala-galanya damai penuh mesra membuat ceria…

Aku ingin menghapus duka dan lara, melerai rindu di dalam dada…

Sedamai pantai yang memutih…

Sebersih lukisan embunan pagi…

Dan ukhuwah kini pasti memutih, menghiasi taman kasih yang harmoni…

Seharum kesturi, seindah pelangi, segalanya bermula… dihati…

Hari ini akan kulalui dengan perjuangan yang baru karena ternyata kusadari bahwa perjalananku ini masih panjang. Damai yang kuidamkan ini hanyalah angan jika diisi dengan kemalasan.

Damai ini membuatku tidak bersedih, karena ternyata aku masih punya saudara, walaupun sekarang aku tidak bersamanya tapi mereka selalu mendapingiku dalam hati ini… Terimakasih saudaraku, engkau selalu membuatku kuat. Semoga diriku selalu ada di hatimu dengan cinta dan kasih sayang yang memberikan kedamaian dan kekuatan.

Di hari baru ini …

Selamat berjuang saudaraku…

Aku akan selalu mendampingimu…

 

Akhirnya tulisan ini kuselesaikan dengan penuh kedamaian… Bogor, 30 Desember 2007

Perjalananku       

Muhammad Fikri Isnaini

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s