Cinta Kita Cinta Sehat, Makanya Taubat!

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah 24)

Ayat ini memulai kisah cinta manusia dengan keluarga, kekayaan, dan usahanya. Ini adalah gambaran cinta yang wajar dan dimiliki semua manusia. Semuanya adalah hal yang wajar untuk dicintai. Tetapi, pandangan ufuk tinggi mu’min sejati mengajarkan kehati-hatian agar ia tak melampaui prioritas cinta akan Allah, Rasul, dan Jihad.

Maka tunggulah samapai Allah mendatangkan keputusanNya. Kalimat ini begitu halus, seolah merupakan dialog dua hati yang terpaut mesra. Pasti, ada ikatan cinta antara kita dengan Allah yang telah begitu mendalam, yang selalu kita ikrarkan dalam persaksian, yang kemudian mengajarkan agar cinta kita adalah cinta yang sehat sepanjang jalan.

Ada banyak orang yang telah dilemahkan oleh cinta manusia. Cinta bukan menjadi energi yang mendorong produktivitas amal dunia-akhirat, tetapi menjadi beban yang memberati jiwa untuk bebas berbakti. Luar biasa kekhawatiran dalam diri Abu Bakar Ash Shiddiq ra, atas ‘Abdurrahman sang putra yang begitu mencintai Atika istrinya.

Amat kuat ikatan mereka berdua, seolah tak ada yang bisa memisahnya. Jangan sampai, pikir Abu Bakar, cinta ‘Abdurrahman pada istri membuatnya melalaikan jihad dan ibadah. Ceraikan istrimu! Begitu perintahnya pada sang putera. Lalu, demi mentaati sang ayah, ‘Abdurrahman pun menceraikan istrinya. Lihatlah perceraian agung ini, bukan karena ketidak cocokan satu sama lain, melainkan sebab kekhawatiran bahwa cintanya akan tumbuh tidak sehat.

Tentu saja nelangsa perasaan ‘Abdurrahman menanggung beban perceraian itu. Selama ini, meski ia mencintai Atikah dengan penuh kesungguhan, tapi ia tetap berusaha agar cinta itu tak menodai ikrar pada Allah untuk berjihad. Demi Allah, ia sudah berusaha. Kini, perasaan cinta yang begitu menggores itu melahirkan sya’ir yang dikenang sejarah:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia
Dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama,
dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu
dan halus tutur katanya

Luluh kemudian hati sang ayah. Mereka pun diizinkan rujuk kembali. Saat itulah, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar menunjukkan kesucian cintanya. Ia buktikan bahwa cinta kepada istri tak pernah melebihi cinta akan Allah, Rasul, dan Jihad sampai ia syahid dalam perang tak berapa lama kemudian.

Membaca kisah ini menjadikan kita begitu malu. Betapa persepsi kita atas cinta begitu jauh dari apa yang difahami Abu Bakar maupun ‘Abdurrahman. Cinta suami-istri yang halalan thayyiban pun masih membuat mereka risau akan ridha tidaknya Allah. Sementara kita enteng saja mengatakan bahwa kita mencintai si dia karena Allah semata. Betapa ringan menulis, ‘Inni uhibbuki.. ukhtii, aku mencintaimu karena Allah.. ukhti’. Masyaallah.

Ada kisa yang menarik tentang Fatimah dan Ali, dua remaja yang tumbuh di bawah asuhan kenabian. Kisah itu berbentuk subuah dialog. “Suamiku..,” kata Fatimah, “Sebelum menikah denganmu, aku pernah sangat menyukai seorang laki2 dan aku sangat ingin menikah dengannya”. Berubah rona wajah Ali. Cemburu, marah, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata, “Apakah engkau menyesal menikah denganku?” Fatimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. “Tidak”, ucapnya pelan. “Karena lelaki itu adalah.., engkau..”

Sumber : Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s