Seolah Aku Bukan Diriku

Saya berfikir, bahwa keinginan yang kuat untuk berpacaran dalam diri kita -kalau ada- adalah manifestasi kepengecutan yang bertahta dalam sanubari. Kita pengecut, masih takut2 untuk menanggung beban dalam hidup berumahtangga. Dan di baliknya, kita begitu licik untuk bersegera menikmati sisi2 indah dalam hubungan dua insan. Benar2 pengecut.

Tapi, mari sejenak kita mengembara, menelusur jejak. Menelaah dengan penuh rasionalitas, apa jadinya kalu kita mencicipi manisnya tebu cinta yang ‘belum sah untuk dipanen’ dan tak bisa menanamnya kembali untuk sebuah masa depan yang terbentang di depan kita. Tahu maksudnya?

Yang pertama, betapa berbahayanya ia bagi kepribadian.

“Selama pacaran..”, kata ustadz Anis Matta dalam himpunan ceramah pernikahan, “Mereka berfikir sedang berusaha saling memahami..”

“Tapi bukan itu yang terjadi”, tegasnya. “Kenyataannya ialah mereka berusaha untuk tampil baik dari yang sebenarnya. Sehingga setiap kali berbicara, sebenarnya mereka sedang menyembunyikan diri masing2. Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut bila pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan ditinggalkan.”

Celakanya seorang remaja mudah terseret ke dalam gaya pribadi yang hipokrit. Kita igin tampil super di hadapan si doi. Kita ingin menjadi seorang yang perfect. Sayang, yang dibangun bukan perbaikan diri, tapi proses ‘penopengan diri’.

Ayat2 Al-Qur’an bicara kepada kita tentang kemunafikan. Perusak iman yang ternyata akan sering kita dapati bersesuaian dengan polah kita untuk mendapatkan perhatian si dia. Berkait dengan penampilan, misalnya dan lain2.

Tentu saja yang paling parah adalah ketika terjadi pergeseran orientasi dalam semua aktivitas dan amalan. Ketika sholat kita karena dia dan bukan Dia, ketika kita tahajud karena takut besok pagi bakalan ditanyain sama dia. Ternyata puasa sunah kita karena dia juga. Kita jadi pemberani dan jagoan karena di dekat kita ada dia. Kita rajin belajar karena dia. Astaghfirullah, kalau semua karena dia dan untuk si dia, lalu apa yang kita siapkan untuk bekal akhirat?

Ada baiknya kita dengar juga nasihat ustadz Didik Purwodarsono yang pernah dikutip ustadz Fauzil ‘Adhim dalam buku Saatnya Untuk Menikah. Dalam bahasa yang amat halus beliau mengatakan: Cara belajar untuk menjadi istri terbaik hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri. TIDAK BISA MELALUI PACARAN. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik.

Sumber : Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s