Ketika Ketenangan dan Kesabaran Bisa Membuat Keadaan Lebih Baik

Sebenarnya artikel ini masih berhubungan dengan kecelakaan lagi, tapi menurut saya ini yang paling “berkesan” dan paling banyak saya ambil pelajaran yang penting🙂

Pekan lalu, tepatnya hari sabtu 14 Mei. Karena di rumah ada makanan lebih, jadi ingin berbagi ke orangtua yang tinggal tidak terlalu jauh dari kontrakan saya, mungkin sekitar 900 meter. Setelah ashar saya hendak berangkat menggunakan my pusy, siapin yang mau dibawa, pakai jaket, pakai helm. Istri sempat berkomentar “kok ke rumah mama aja pake helm, deket juga”. Entah sejak kapan saya lupa, mulai terbiasa kemanapun selalu menggunakan helm, walaupun jaraknya dekat, berusaha safety dimanapun, karena musibah bisa terjadi baik dekat maupun jauh, baik di jalan kampung maupun jalan raya. Saya memang punya 3 helm, satu saya berikan ke adik, satu helm full face digunakan ketika ke kantor dan jarak lumayan jauh, sedangkan yang half face untuk jarak dekat agar lebih simpel.

Tak diduga ketika di jalan terjadi kecelakaan, saya menabrak anak kecil sekitar 5 tahun. Kasihan saya melihat anak tersebut.

TKP dan Kronologi Kejadian

Kecelakaan terjadi di jalan yang hanya muat untuk dua mobil pas, jadi tidak ada selah untuk menyalip jika ada mobil yang jalan berpapasan. Tepat sebelah kiri warung dan kanan pangkalan ojek yang cuma ada satu orang anak muda, sebut saja prapto. Seperti biasa setiap mengendarai motor selalu lihat situasi sekeliling, di sebelah kanan saya ada APV yang sedang parkir, kecepatan saya kurang lebih 15kpj, karena memang banyak polisi tidur di sana dan jalan tidak luas. Tiba tiba ketika saya mendekat ke APV tersebut, ada anak kecil yang berlari lumayan kencang dari arah belakang mobil, saya kaget dan brakk…. saya tidak bisa berbuat apa-apa, anak tersebut menabrak stang kanan motor saya dan terjatuh sambil menangis, saya langsung berhenti karena pelan dan menengok ke arah anak tersebut (ada di samping kanan ban belakang).

Bak Buk Bak Buk…. tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang memukul saya bertubi-tubi ke arah kepala belakang dan samping kiri yang saya ketahui ayah anak tersebut yang sebelumnya di depan mobil sambil memaki dan menyalahi saya, juga prapto. Situasi semakin ramai, banyak juga ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sekitar lokasi mendatangi dan berusaha melerai.

Pada saat itu yang saya lakukan hanya berusaha tenang dan diam tidak membalas, akhirnya pukulan berhenti dan prapto ke depan saya meminta agar lepas helm tapi saya tahan. dengan gaya kasarnya mengancam “gw bawa ke polsek lo”, saya hanya diam saja. setalah itu saya turun dari motor dan men standar motor, pukulan sudah tidak ada tapi makian tetap membahana. Saya membuka helm dan saya katakan “Tenang, tenang semuanya, saya akan tanggung jawab, sekarang segera obati/bawa anak ini ke rumah sakit” dengan wajah yang berusaha tidak panik, tenang, dan berusaha sabar dengan makian dan pukulan-pukulan tadi.

Anak tersebut dibawa ke tukang urut oleh ayahya dan prapto masih tetap mengancam-ancam saya dengan gaya premannya yang sedikit saya cuekin dan saya berusaha ngobrol, minta maaf, dan berusaha simpati pada sang ibu korban sambil menenangkan beliau.

awalnya sang ibu menyalahkan saya, tapi ketika berusaha saya tenangkan dan minta maaf berkali-kali, akhirnya sang ibu juga mengakui kelalaiannya membiarkan anaknya langsung keluar mobil ketika ia memakai sepatu dan berlari.

“saya mau pulang dulu mau ambil dompet, karena saya sekarang tidak bawa apa-apa”, kata saya kepada prapto dan sang ibu. Sepanjang jalan ada juga ibu-ibu yang menasehati saya agar bersabar dan untuk tenang, dan sepanjang jalan ke kontrakan, saya berusaha tenang dan berdoa semoga segala sesuatunya dimudahkan.

Lalu saya diminta prapto untuk ikut ke tempat anak tersebut di urut. Saya lalu menaruh helm di motor dan memarkirkan di pinggil di depan sebuah rumah yang ada ibu-ibu dan bapak-bapak berkumpul melihat kejadian. Seorang Ibu bertanya “mau kemana mas?”, “diminta datang ke tempat anak itu bu”, lalu serentak orang-orang yang berada di sana melarang saya ke sana, dan meminta agar semua diselesaikan di sini. Yang saya ketahui mereka semua khawatir akan terjadi apa-apa jika saya ikut dengan prapto. Tapi prapto tetap mengharuskan saya kesana, akhirnya saya “dikawal” oleh seorang bapak bernama Arman dan orang-orang sekitar membolehkannya karena mereka percaya dengan Pak Arman.

Singkat cerita di tempat kami menunggu sang anak, saya berusaha bersikap bersahabat dengan prapto dan kerabat sang ibu dan saling bercerita banyak hal. Sikap prapto yang kasarpun berubah melunak.

Ketika sang ayah datang sayang langsung menghampiri dan hendak meminta maaf dan menanyakan biaya pengobatan. Tak disangka, sebelum saya minta maaf, sang ayah tadi meminta maaf lebih dahulu dan mengakui kesalahan anaknya dan kelengahan mereka. Ya, saya fikir mereka sudah semakin tenang dan sayapun meminta maaf dan sedikit ngobrol. Untuk biasa pengobatanpun saya tidak dimintai apa-apa. Semoga anak tersebut lekas sembuh🙂

Akhirnya saya kembali ke TKP diantar Pak Arman dan orang-orang di sana menanyakan yang terjadi. Sayapun berterimakasih kepada orang-orang itu karena telah membela dan berusaha melindungi saya. Saya juga meminta maaf apabila merepotkan dan mengganggu jalan di sana. Jadi sekarang setiap saya melewati jalan itu banyak yang selalu menyapa saya yang biasanya saya juga cuek ketika lewat sana🙂

Dari kejadian itu saya juga memahami apa yang dilakukan korban, karena saya juga pernah mengalami sebagai korban, yang pertama timbul adalah emosi, tapi jika kita lawan dengan emosi, maka kejadian tersebut akan semakin buruk, dan tentunya yang dianggap sebagai pelakulah yang akan mengalami kerugian paling banyak. Tidak terbayang seandainya saya ikut emosi dan melawan sang ayah dan prapto karena tidak terima dengan tindakan mereka dan bilang anak tersebut yang salah, mungkin akan ada perkelahian dan saya yang akan paling merugi.

Helm… yap, dengan ini kepala saya terlindungi dari pukulan-pukulan tersebut, saya fikir mungkin yang memukul yang merasakan sakit di tanggannya karena memukul helm saya, saya sendiri tidak merasakan sakit karena busa di helm yang lumayan empuk. Apa jadinya jika saya tidak pakai helm? mungkin saya sudah babak belur😀

tiga hal ini yang menurut saya memberi pelajaran berharga bagi saya, yaitu tenang, sabar, dan safety 

^_^

9 thoughts on “Ketika Ketenangan dan Kesabaran Bisa Membuat Keadaan Lebih Baik

    1. hihihi…. Sama2 Bro… ngidam itu biasanya harus dituruti loh bro :p
      tp kalo sabar tunggu tahun depan aja bro, kemungkinan akan ada motor sport baru nih😀

      1. belum tau sih apa, tapi isu2nya pabrikan pada mo ngeluarin motor sport baru, kalo bajaj kayak pulsar next generation (katanya pake mesin KTM), KTM Duke entah yg berapa cc, tp kemungkinan 200cc, dari Yamaha bisa jadi R15 yg baru atau Fazer250/R250 pengganti scorpio, dari honda bisa ngeluarin pengganti Tiger. suzuki mungkin GW250 sama GS150 deh.

        itu masih prediksi2 para blogger otomotif dan berita2 otomotif. tapi kayaknya nggak ada yg lebih murah dari p135 deh😀 hehehehe….. ane juga beli ini karena value paling tinggi (harga murah tp spek keren teknologi canggih), juga irit dan bertenaga untuk motor 135cc dgn tenaga setara motor 150cc, tapi iritnya udah kayak bebek, desain keren lagi😀

  1. vote for pies… kecuali ada batangan yg harganya macam revo, xixixixi..

    – pantesan anak ane yg baru lahir ngileran – bapaknya ngidam belum kesampaian kali y? –

  2. bersabar itu perlu bang, tp kesopanan & bertindak sewajarnya pun penting. Pada sikon tsb, saat jalanan kecil, motor pelan, anak yg “tertabrak” (mungkin lebih tepat tersenggol) pun sptnya tidak parah luka2nya, maka tindakan main hakim sendiri spt itu sangat2 tidak bisa diterima (atleast bwt ane pribadi), terutama saat sang penabrak tidak telihat ingin melarikan diri dan bersikap sopan (tidak defensif atau menantang2).

    Kalo sy ada di posisi anda saat itu, sy dipukul ya akan membela diri, ndak ada ceritanya membiarkan orang lain menjadikan diri kita sansak hidup spt itu. Sama2 makan nasi, jg sama2 manusia yg ada khilaf & alpa, kok seenaknya menghakimi & menghukum orang lain spt itu ?? Apa mrk udah sempurna shg ga akan pernah berada pada posisi yg bro alami saat itu ? Sy yakin jawabannya adalah tidak.

    Pengalaman hidup d Jakarta, semakin orang dibiarkan seenak udel, ya akan semakin ngelunjak. Jadi sy selalu berprinsip tidak akan memulai keributan, berusaha mencari damai saja, tp klo didahului spt itu, ya hayuh mau diselesaikan spt apa. Mohon maaf hanya sekedar sharing ajah, ane kagum sm kesabaran diri bro pribadi.

    regards,
    Gunawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s